Sabtu, 01 Agustus 2009

Bezie Galih Manggala

Well, dad said, etimologically Bezie means sumthin' strong (taken from Feruum, "Besi"), while busy (bizi') means not having lot of leisure time..

Bahsi, in Arab, means "He who defends me", while bissous (bizu) means kisses in French..

Bez comes from "Best" (this one I like the most ;), and the last is Bejo, it means that I come from Jawa.. :P,...

owhya, ada lagi satu, Bushi (Busi) means warrior in Japanese language (Nihonggo).. well I wish I can be a good budoka.. :),

for Galih means the softest part of heart, from where comes every feeling, Manggala is a name of an Ancient sundanese Galant..

Bezie Galih Manggala means a Strong Galant Heart, or the strong heart of a Galant.. this is a beautiful prayer.. :),

I luv this name, yet I won't mind to be called Abdurrauf either, lol.. :P :P :P

thank you fer asking.. :),

Kamis, 16 Juli 2009

cubicle

i can't come,
i'm in my narrow cubicle
workin out a life that just runing around within a circle

typing up phases that passes fast
I can't even hav no time to read your messages
You can't call, and I can hardly come
I have a bunch of scrapses there within my cubicle
I really wish that i were at home
but no, all the thing I see is only walls of my plain stressin' cubicle

Rabu, 15 Juli 2009

I wish that I'm not the number 1, nor I wish I am the number two..

Bismillahirrahmanirrahim..
gue dapet ini dari FB group Daarut Tauhid.. :),
Menurut Syekh Abdul Qadir Jailani, bahwa manusia itu dapat dikelompokkan menjadi empat golongan, yaitu :

1. Manusia yang tidak mempunyai lisan dan hati, senang berbuat maksiat, menipu serta dungu. Berhati-hatilah terhadap mereka dan jangan berkumpul dengannya, karena mereka adalah orang-orang yang mendapat siksa.

2. Manusia yang mempunyai lisan, tapi tidak mempunyai hati. Ia suka membicarakan tentang hikmah atau ilmu, tapi tidak mau mengamalkannya. Ia mengajak manusia ke jalan Allah Swt. tapi ia sendiri justru lari dari-Nya. Jauhi mereka, agar kalian tidak terpengaruh dengan manisnya ucapannya, sehingga kalian terhindar dari panasnya kemaksiatan yang telah dilakukannya dan tidak akan terbunuh oleh kebusukan hatinya.

3. Manusia yang mempunyai hati, tapi tidak mempunyai ucapan (tidak pandai berkata-kata). Mereka adalah orang-orang yang beriman yang sengaja ditutupi oleh Allah Swt. dari makhluk-Nya, diperlihatkan kekurangannya, disinari hatinya, diberitahukan kepadanya akan bahaya berkumpul dengan sesama manusia dan kehinaan ucapan mereka. Mereka adalah golongan waliyullah (kekasih Allah) yang dipelihara dalam tirai Ilahi-Nya dan memiliki segala kebaikan. Maka berkumpullah dengan dia dan layanilah kebutuhannya, niscaya kamu juga akan dicintai oleh Allah Swt.

4. Manusia yang belajar, mengajar dan mengamalkan ilmunya. Mereka mengetahui Allah dan ayat-ayat-Nya. Allah Swt. memberikan ilmu-ilmu asing kepadanya dan melapangkan dadanya agar mudah dalam menerima ilmu. Maka takutlah untuk berbuat salah kepadanya, menjauhi serta meninggalkan segala nasihatnya.

Semoga kita semua tidak termasuk kepada golongan yang pertama dan yang kedua dan semoga pula kita dilindungi dari golongan seperti itu.


Wallohualam bi showab

Senin, 29 Juni 2009

Life?

Bismillahirrahmanirrahim..

"..life is a ton of phases, and i am an unfinished chapter.. i'm not stopping, unless HE stops me.. :),"

Minggu, 28 Juni 2009

Imajinasi, sebuah dunia "tanpa" Tuhan?

Bismillahirrahmanirrahim.

Seorang teman di facebook statusnya melontarkan pertanyaan diatas. Saya pun tertarik untuk membuka page profilnya. Setelah ditelusuri, ternyata telah banyak komentar yang menimpali pertanyaan tersebut. Diantaranya ada yang menolak kebenaran pertanyaan diatas, dengan alasan bahwa imajinasi tidak akan muncul tanpa ada yang menciptakan. Ada yang setuju pada pertanyaan itu dengan mengatakan bahwa imajinasi tidak memiliki batas, artinya ia lepas dari pembatasan. Kemudian ada penjawab ketiga yang mengatakan setuju, dengan alasan bahwa banyak Filsuf dan Ilmuwan yang menemukan banyak hal dengan bantuan imajinasi, padahal mereka belum mengenal Tuhan.

Ini adalah sebuah kajian menarik bagi saya, ada dua hal yang kemudian akan saya komentari tentang pertanyaan ini.

Hal pertama yang membuat saya tertarik sebetulnya bukanlah benar atau salahnya fakta yang ditawarkan oleh si penanya mengenai hubungan antara imajinasi dan Tuhan. Hal pertama yang saya garis bawahi dari pertanyaan ini adalah tidak adanya definisi serta parameter yang jelas mengenai arah yang ditawarkan oleh pertanyaan.

Maksud saya, seperti sering terjadi pada perdebatan-perdebatan mengenai Tuhan, hal yang seringkali kita lupakan adalah kenyataan bahwa kata "Tuhan" adalah sebuah kata umum dengan definisi yang luas. Bagi seorang monoteis misalnya, kata Tuhan sendiri merupakan representasi dari sebuah Dzat yang terkumpul didalamnya banyak sekali Fungsi. Bagi agama-agama samawi, Tuhan adalah DIA yang Ada (tidak diciptakan dan tidak akan hilang atau rusak), menciptakan, memelihara (dengan cara langsung maupun tidak langsung melalui hukum2), menghancurkan, membangkitkan, kemudian membalas amalan-amalan semesta dengan balasan yang setimpal melalui surga dan neraka. Disini dapat kita lihat kenyataan bahwa Tuhan adalah kata dengan bentuk paling umum, dimana bentuk khususnya bisa kita temukan misalnya pada kata "Sang Pencipta", atau "Sang Pemelihara".

Pentingkah membuat pengerucutan mengenai Tuhan dalam sebuah perdebatan?

Ya, tentu saja penting.

Memperdebatkan sebuah topik dengan bentuk umum beresiko membawa perdebatan pada arah yang terlalu luas. Ini dapat kita lihat dari contoh pertanyaan diatas yang dijawab dengan 3 bentuk Tuhan dalam hubungannya dengan Imajinasi. Jawaban pertama adalah Tuhan dengan fungsinya sebagai sang Pencipta, jawaban kedua menyatakan hubungan Tuhan dengan Imajinasi sebagai sang Pemelihara, dan jawaban ketiga menjelaskan hubungan Tuhan dengan imajinasi sebagai, sang Entitas, sang Hak, Wujud dan Baqa, sebagai Dia yang Ada bahkan dalam ketiadaanNya.

Tentu saja perbedaan parameter ini menghasilkan gagalnya terdapat clash dalam debat sehingga perdebatan tidak dapat pergi kemana-mana. Tidak ada saling tukar argumen dan tidak ada pengetahuan baru yang didapat. Saya memberi contoh sebuah analogi mengenai tidak mungkinnya memperdebatkan penggunaan kecap, jika yang satu membicarakan bakso (yang tentu saja terbukti enak dibumbui kecap), sedangkan yang lain membicarakan jus jeruk.. (dimana kita bisa berspekulasi, apakah kita berani merasakan jus jeruk dengan kecap?). Fungsi kecap disini jelas akan menciptakan hasil yang kontradiktif. Konsekuensinya ; se kontradiktif apapun argumen yang dilontarkan pihak-pihak yang berpendapat, semua pihak bisa saja benar atau bisa saja salah pada saat yang bersamaan, sehingga tidak dapat disimpulkan nilai kebenaran dari topik yang tengah dibicarakan.

[sebetulnya saya menggunakan mie ayam alih2 jus jeruk pada argumen saya sebelumnya, tapi saya ubah contoh analoginya untuk mempertegas signifikansi reasoning saya]

Kemudian, setelah membaca argumen saya, barulah teman saya tersebut menjelaskan batasan yang ingin ia bicarakan dalam pertanyaannya.

Ia berbicara mengenai "independensi" yang diberikan Tuhan kepada manusia, yang membedakan manusia dengan malaikat yang hanya dapat Ta'at patuh kepada kehendak Tuhan. Independensi ini baginya adalah konsekuensi logis dari ditanamkannya akal dan nafsu pada diri manusia, dan pertemuan antara akal dan nafsu juga ditemukan dalam imajinasi.

Dari sanalah ia menyimpulkan bahwa imajinasi adalah bagian dari "area" tanpa Tuhan, yang Tuhan ciptakan bagi manusia. Tempat dimana manusia bebas menentukan perbuatannya semaunya dan memilih dalam kehidupannya menjadi apapun yang dia mau. Proposisi yang ditawarkannya, dalam hal ini, Tuhan dan takdir yang diciptakannya tidak campur tangan karena itulah ketetapan Tuhan.

Dengan batasan ini, tentunya akan lebih mudah menjawab pertanyaan diatas dan memberikan komentar. Karena jika kita berbicara mengenai Tuhan sebagai yang Menciptakan, misalkan, jelas, dalam hal ini sang penanya setuju bahwa Imajinasi juga diciptakan, buktinya adalah pemikirannya yang menyimpulkan bahwa imajinasi adalah area yang diciptakan Tuhan bagi manusia dimana manusia dapat lepas dari kehendak Tuhan.

Dalam hal ini menjadi jelas, "Tuhan" yang kita bicarakan merepresentasikan Tuhannya kaum monotheis. Secara umum dan historis, kita membicarakan YHWH, Eloha, Jehovah, Allah, Tuhan yang disebut-sebut oleh kaum Yahudi, Nasrani, Baha'i, maupun umat Muslim. Secara khusus dan pribadi, kita berbicara mengenai Tuhan dan diriNya yang ia jelaskan di dalam Al-Qur'an, kitab yang diakui oleh umat Muslim.

Satu masalah terselesaikan tanpa memerlukan perdebatan lebih panjang. (Sebetulnya perdebatan mengenai ada atau tidaknya sang Pencipta masih sangat terbuka dari pernyataan diatas, tapi apabila kita memperdebatkan hal tersebut di halaman ini, maka yang terjadi adalah keluar konteks, karena parameter kini telah disahkan.. :), Karena kita membicarakan mengenai sesuatu yang spesifik, maka bukti-bukti serta alasan dari argumen-argumen kita dapat dipersempit kedalam ruang yang semakin sedikit pula, dan pendapat-pendapat akan menjadi jauh lebih sederhana.

Tanggapan saya sendiri, ada dua hal yang kemudian menjadi permasalahan dari pernyataan penanya.

1. Seperti apakah independensi yang dimaksud? Apakah benar-benar tanpa batas? dimana batasan-batasan dari independensi tersebut?

2. Definisi mana dari imajinasi yang kita bicarakan? Imajinasi itu seperti apa? Seberapa besar kekuatan dan pengaruhnya? Seperti apakah ada hubungannya dengan Independensi diatas?

karena jika kita berbicara mengenai imajinasi di Dunianya Peter Pan, dimana ia adalah sumber kekuatan yang dapat menjadi kenyataan hanya dengan dibayangkan, tentu akan berbeda dengan Imajinasi menurut Einstein, yang lebih dekat hubungannya kepada "Visi".. kemampuan seseorang untuk dapat berfikir jauh kedepan, dan kebelakang. Menembus batas-batas fisik yang melingkupinya dan membuatnya menjadi eksistensi yang terpenjara dalam keterbatasan.

Nah.. Untuk mencoba memahami lebih dalam mengenai hal tersebut, dua pertanyaan diatas harus terpenuhi terlebih dahulu, baru pendapat-pendapat lain dapat diutarakan..

Bagi saya pribadi, sebetulnya Independensi yang diberikan Tuhan bagi manusia amatlah terbatas. Dari sebuah buku berjudul "Semesta Bertasbih", saya mendapat pemahaman bahwa sang Khalik (Yang Menciptakan) membagi Makhluk (yang diciptakan) dalam dua jenis.

1. Makhluk dalam sifatnya yang paling dasar. Makhluk-makhluk tanpa kehendak, yang hanya dapat menyerahkan diri (taslim) dan mengikuti kemauan Hakiki, sehingga makhluk-makhluk ini tidak dapat membangkang, dan hanya dapat Patuh pada PerintahNya ("muslim") ; buku ini memberikan Malaikat, Burung-burung, Gunung-gunung, Bintang-bintang, laut, dan nyaris seluruh isi semesta sebagai sampel.

2. Makhluk yang dibekali Nafsu (hasrat, contohnya jin dan manusia), dan Akal ("kemampuan untuk membedakan dan memberikan nama-nama", contohnya manusia.). Makhluk ini diberikan "preferensi" sehingga dapat menentukan prioritas, lepas dari kehendak hakiki atau ta'at kepada kehendak tersebut. Tendensi terbesarnya adalah membangkang, namun dengan bantuan serta rahmat Allah dapat disucikan sehingga kembali menjadi Ta'at dan berserah diri ("muslim").

[dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa suatu hari, malaikat bertanya pada Tuhan tentang mengapa manusia dijadikan pemimpin, Tuhan menjawab bahwa hanya manusia lah yang mempunyai kemampuan untuk menamai benda-benda. (kisah ini diceritakan kembali oleh syeikh Yusuf Estes, apabila ada yang dapat memastikan validitas riwayat ini, saya akan sangat berterima kasih.)]

Nah, sementara menurut syeikh Yusuf Estes. Independensi ini sebetulnya dapat diamati dan diberikan batasan. Beliau menyebut Indendensi ini sebagai "Free Choice" (alih2 "Free Will", kehendak bebas seperti yang seringkali dipahami pada umumnya.). Karena baginya, manusia hanya dapat memilih dan bukannya berkehendak. Dan pilihannya itulah yang menentukan bahagia tidaknya seorang manusia tersebut kelak, di dunia maupun di akhirat.

Kita mengambil contoh seseorang yang memilih untuk melanjutkan study di bidang kedokteran.

Ia misalkan bekerja keras setiap malam dan menempuh ujian. Ia MEMILIH untuk menjadi seorang dokter. Namun kenyataan berkata lain, ia tidak lulus dan harus pasrah menerima nasib menjadi seorang guru.

Nah, disinilah kemudian dipertanyakan. Apakah kehendak bebas tersebut benar-benar ada?
karena, bagi syaikh Yusuf Estes, apabila manusia benar-benar berkehandak, independen, bebas, maka manusia seharusnya dapat benar-benar menentukan garis hidupnya.

Namun kenyataannya manusia ternyata bergantung pada keadaan, keterbatasan-keterbatasan, dan faktor-faktor mortal lainnya.

Dimana kita bisa melihat posisinya yang terbebas dari Entitas Tuhan dalam hal ini :),?

Jawabannya sebetulnya sangat mudah. Apa yang diberikan Tuhan kepada manusia bukanlah Kehendak, tapi Pilihan.

Karena jasad mansuia terlalu rapuh untuk menanggung kehendak, dan akal manusia terlalu sempit untuk menanggung segala akibat yang mungkin dari adanya kehendak.

Manusia hanya diberi pilihan ; apakah ia akan memilih untuk menjadi dokter dan bekerja keras (yang akan memberikan "surga" secara haq berupa kepuasan dan ilmu pengetahuan serta kebijaksanaan pada manusia tersebut, walaupun mungkin diperlukan untuk melewati "neraka" material dengan banyak berfikir dan mengeluarkan keringat), atau memilih menjadi pemalas dan menghabiskan hidupnya dengan sia2 dan mencari uang dari promosi internet.. (yang mungkin akan memberikan "surga" material berupa kemewahan duniawi, namun menjebloskan kepada "neraka" batin berupa kekosongan dsb.)

Ia tidak dapat menentukan hasilnya apakah ia akan benar-benar menjadi dokter atau sebaliknya.

Dan bahkan, saat menentukan pilihannya, manusia pun tidak benar-benar lepas dari Tuhan karena sebelum memberikan pilihan, seperti pada Adam a.s yang telah dilarang makan buah Khuldi, Tuhan telah memberikan pendapatnya pada Manusia.

[bagi Yusuf Estes, Pilihan Adam a.s sebetulnya bukan hanya antara memakan atau tidak memakan buah Khuldi, tapi juga antara bertaubat atau tidak bertaubat.]

Ketika menerima nasibnya pun, manusia akan kembali diberi pilihan-pilihan, dan bukannya kehendak. Apakah ia akan menerima nasibnya dan menjadikannya TERASA lebih baik, atau menolaknya dan kemudian MEMPERBURUK keadaan.

Disini telah dibuktikan kemudian bahwa Area tanpa Tuhan tersebut tidak benar-benar ada, karena batas-batas independensi manusia sangat jelas. Yang menciptakannya jelas, hukum-hukum yang memeliharanya jelas, konsekuensi mengenai penggunaannya pun telah dapat dilihat dengan Jelas.

"Tidak ada ruang bagimu, semesta ini dipenuhi diriNya."
(Iblis. "The Madness of God", Shawni).

nah.. seperti itulah pandangan saya mengenai Independensi manusia. Seperti halnya tidak ada yang dapat manusia sombongkan dari keputusan dan pilihan yang telah ia ambil, lebih jauh lagi tidak ada yang dapat manusia benar-benar sombongkan maupun sesali dari Hasil yang telah Tuhan tetapkan melalui KehendakNya.

dengan ini jelas sebetulnya pandangan saya mengenai pertanyaan pertama.

Nah, hubungannya dengan pertanyaan kedua.

Dalam hal ini saya merasa perlu mengkonfirmasi, sebelum melanjutkan, dan ini juga sebetulnya adalah remark kedua dari pernyataan saya yang paling awal mengenai pertanyaan ini. Sebetulnya imajinasi seperti apa yang penanya sebutkan? Karena sekali lagi, definisi imajinasi dapat sangat luas, seluas dan se "tanpa batas" imajinasi itu sendiri.

Meskipun bagi saya, walaupun mungkin pernyataan ini dapat merusak excitement yang dapat muncul dari berpendapat. Imajinasi yang tanpa batas jelas hanya terdapat dalam imajinasi itu sendiri; ia tidak dapat begitu saja muncul dan menjelma nyata. Lebih jauh lagi "ketidakterbatasan" tersebut juga merupakan ciptaan dari yang Jauh lebih tak terbatas lagi, yang artinya, tetap ditemukan keterbatasan dari ketidak-terbatasan imajinasi. (jika kita belum menemukan batasnya, tidak berarti bahwa imajinasi tersebut tidak terbatas bukan?).

Diluar itu, bagi saya, imajinasi juga muncul dari inspirasi-inspirasi. Tidak mungkin ada asap jika tidak ada api. Mungkin hal ini akan sangat sulit dibuktikan, tapi mungkinkah manusia membayangkan untuk dapat terbang apabila seumur hidup sejak lahir terkurung di ruang bawah tanah tanpa sempat melihat langit dan burung-burung? Tidak, bagi saya pribadi jawabannya adalah tidak mungkin.

Bahkan dalam imajinasi, kita dapat menemukan ketidakmungkinan-ketidakmungkinan.

Seliar apapun imajinasi kita, ia pasti muncul dari penyebab-penyebab, dan, jika kita berbicara mengenai Tuhan monotheistik. Kita tentunya meyakini bahwa Tuhan adalah satu-satunya penyebab, penyebab yang hakiki, sehingga imajinasi tentu saja tidak berdiri sendiri dan tidak tanpa campur tangan Tuhan.

Apakah ini artinya manusia terkekang?

Well, saya lebih senang melihat ini sebagai Fakta bahwa Tuhan tidak melepaskan kita sedikitpun dari genggamanNya, hanya karena kita terlalu rapuh dan terlalu bodoh untuk dibiarkan mengurusi segalanya sendirian. Saya lebih senang melihat ini sebagai kenyataan bahwa Tuhan sangat menyayangi kita, sehingga ia turunkan segala batasan yang telah ia ciptakan bagi kita sehingga kita tidak mudah rusak atau hancur.

Tuhan benar-benar menyayangi kita, jauh lebih sayang darpada Ibu yang melahirkan kita dan Ayah yang memberi kita makan.

Jika kita sayang dan berterimakasih pada orang tua kita, mengapa kita tidak bisa sayang dan berterimakasih pada Tuhan? :),

Kamis, 02 April 2009

belajar masak

Bismillahirrahmanirahim..

Akhir-akhir ini guah balik lagi ke pelajaran masak..

dapet filosophy nasi tumpeng compared to filosophy mie instant..

mm.. belajar masak.. :),

Rabu, 01 April 2009

The Searching..

Bismillahirrahmanirrahim..

Tanpa bermaksud mengeluh,
pencarian terhadap kebenaran seringkali memusingkan,
melelahkan rasanya merasa menemukan kebenaran
kemudian kembali terjun ketengah-tengah ketidakpastian untuk menemukan kepingan lain dari kebenaran itu..

Subhanallah.. Betapa Indahnya kehidupan.. :),